Berbahagia di Kandang Sapi

: catatan Live In 1
Jumat pagi (13/10/2017) tim guru Kakice berangkat menuju lokasi Live In di Lembang. Keberangkatan tim guru tersebut untuk memantau kegiatan Live In di sana dengan fokus kegiatan pemeliharaan ternak sapi. Tim guru yang berangkat di antaranya Pak Toyib, Pak Koben, Bu Bei, dan Bu Hj. Imas.
Berangkat dari Kakice pukul 09.30 WIB dan tiba di lokasi Live In di Kp. Barunagri Ds. Sukajaya Kec. Lembang pukul 10.00 WIB. Tim langsung menuju kandang sapi. Namun, kandang dalam kondisi dikunci. Tim pun bergerak menuju rumah Pak Wawan, pengurus kandang sapi sekaligus induk semang peserta Live In.
Tiba di rumah Pak Wawan, tim disambut langsung oleh tuan dan nyonya rumah. Tak hanya itu, anak-anak peserta Live In pun menyambut tim dengan histeris. Mereka berteriak penuh suka cita begitu mendapati salah seorang guru, Pak Koben, muncul di hadapan mereka.
Setelah bercengkerama sebentar dengan tuan rumah, Pak Koben meminta izin untuk melakukan pertemuan dengan para peserta Live In. Anak-anak segera berkumpul di ruang tengah bersiap menyimak arahan dari Pak Koben. Pak Koben mulai menanyai anak-anak sebelum melanjutkannya dengan arahan.
Pertanyaan seputar suasana hati, kabar kesehatan, aktivitas yang dijalani, dan seterusnya ditanyakan Pak Koben kepada anak-anak. Rata-rata mereka merasa bahagia dan betah tinggal di tempat Live In ini. Meski harus bergelut dengan kotoran sapi, setiap hari mereka selalu merasa senang. Bagi mereka ini adalah suatu hal yang tidak mereka dapati di pesantren.
Membersihkan kandang sapi dan membuang kotoran sapi menjadi aktivitas harian yang menyenangkan bagi mereka. Bau kotoran sapi tak mereka hiraukan. Pengalaman tubuh mereka terkena kototoran sapi menjadi satu cerita lucu yang dapat mereka bagikan kelak sebagai suatu cerita penuh kenangan.
Tak hanya bergelut dengan sapi, mereka pun diajari membuat yoghurt, penganan yang terbuat dari susu sapi yang difermentasi. Mereka tentu amat berbahagia karena dapat makan yoghurt dengan gratis. Dan, yang tepenting mereka tahu proses pembuatannya. Di suatu waktu mereka pun berkesempatan membuat tempat penyemaian benih cabe. Kebetulan Pak Wawan memiliki tetangga yang usahanya menjual bibit tanaman cabe. Ini menjadi pengalamam tambahan bagi para santri.
Kebiasaan di pesantren yang sering mereka lakukan seperti qiyamul lail, tilawah, dan puasa senin dan kamis tidak mereka hilangkan di tempat Live In ini. Terlebih mereka mendapatkan induk semang yang taat beragama. Pak Wawan beserta istrinya selalu cerewet mengingatkan santri untuk melaksanakan aktivitas kepesantrenan. Istri Pak Wawan selalu menagih setoran hafalan kepada anak-anak. Kebetulan istri Pak Wawan ini seorang penghafal Quran juga.
Demikian aktivitas para santri kelompok 1 yang dihuni oleh Kania, Mutiara, Karima, Najwa, Ilmi, dan Putri. Kunjungan tim guru pun berakhir menjelang sembahyang jumat.***(ek/kakice)

Please follow and like us:
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *