Berkurban Ala Kampoeng Quran Cendekia

Pagi hari setelah melaksanakan salat Idul Adha beberapa santri mengerumuni seekor kambing jantan yang tanduknya melengkung tajam. Sebentar-sebentar para santri itu menyodorkan rumput ke mulut si kambing. Dengan semangat kambing itu mengunyahnya. Ia barangkali belum menyadari bahwa itulah kunyahan terakhirnya sebelum mati menjadi kurban. Di matanya tak tampak gurat kesedihan. Para santri semakin bersemangat memberinya makan,
Sudah satu jam ditunggu, petugas pemotong kambing belum datang. Ustaz Ahmad Jumhur yang menjanjikan akan datang untuk menyembelih hewan kurban belum belum menampakkan batang hidungnya. Barangkali beliau lupa. Seorang ustaz muda sigap menyusul Ustaz Ahmad Zumhur ke rumahnya yang tak jauh dari KQC.
Pak Haji Yudi Hermawan selaku pembina KQC mengomando para santri untuk mempersiapkan tempat penyembelihan hewan kurban. Alat-alat pun segera disiapkan. Beberapa orang santriwati sigap menggelar terpal di Ruang Persib. Ruangan itu dipersiapkan untuk mencacah daging kurban.
Tak lama Ustaz Ahmad Zumhur pun datang membonceng anaknya. Para santri tampak lega. Kambing jantan itu tak lama lagi akan disembelih. Pak Haji Yudi segera menyodorkan sebilah golok kepada Ustaz Ahmad Zumhur. Segera Usraz Ahmad Zumhur mengajak para santri ke tempat penyembelihan hewan yang sudah disediakan. Beliau menjelaskan tata cara menyembelih hewan kurban kepada para santri sebagai pengetahuan dan pembelajaran bagi para santri.
Prosesi penyembelihan pun segera dimulai. Beberapa orang santri diminta memegangi kambing jantan itu. Ustaz Uji segera mengikat kaki kambing dengan seutas tambang. Kambing pun direbahkan dengan posisi kepalanya berada di sebelah kiri. Itu posisi yang disunahkan.
Setelah mengucapkan basmallah, Ustaz Ahmad Zumhur segera menyembelih kambing itu dengan satu tarikan nafas. Darah memancar dari leher kambing membasahi tangan seorang ustaz yang kebagian memegangi kepala kambing. Kambing menggelepar meregang nyawa. Kakinya tampak seperti kejang-kejang. Beberapa saat kemudian kambing itu sudah lemas. Tampaknya ia sudah mati dengan sempurna.
Para santri yang berbadan cukup besar segera menggotong kambing itu kemudian menggantungnya di Ruang Pesib untuk dikuliti. Beberapa ustaz muda segera menguliti kambing itu. Ia tampak kesulitan. Barangkali belum terlalu berpengalaman. Tak lama datang bantuan dari Mang Caca, seorang karyawan KQC. Mang Caca ini tampaknya sudah berpengalaman. Ia begitu cekatan menguliti kambing.
Prosesi pengulitan kambing selesai. Beberapa orang santri mencacah dan memisahkan beberapa bungkus daging untuk dibagikan kepada para karyawan KQC. Sisanya dioah oleh Bu May, koki KQC yang sudah sangat berpengalaman mengolah daging untuk dijadikan menu makan siang yang lezat.
Menjelang salat Jumat, para santri sudah bersiap untuk melaksanakannya. Beberapa santri putri masih sibuk membantu Bu May memasak di dapur. Mereka memasak nasi kebuli, nasi khas bangsa Arab, sesuai permintaan Pak Haji Yudi. Adapun resepnya didapat dari nenek salah seorang santri yang memang keturunan Arab.
Usai salat Jumat, nasi kebuli sudah siap disajikan. Tulang-tulang kambing diselimuti oleh nasi kebuli yang tampak masih mengepul. Sepiring daging yang dimasak dengan bumbu asam manis sudah terhidang. Sajiannya tampak menggugah selera. Pak Haji Yudi bersama seorang tokoh masyarakat Kompleks Lembah Hijau Cihanjuang datang ke Ruang Persib untuk menikmati sajian makan siang. Beberapa orang ustaz ikut menemani makan siang itu. Para santri pun sudah membawa jatah makannya masing-masing ke kobongnya. Mereka biasa menyantap makanan secara bersama-sama dalam satu nampan besar.
Sepiring daging kambing asam manis dan sebakul nasi kebuli sudah tandas. Kami meneruskannya dengan bincang santai sambil menikmati camilan berupa semangka segar. Pak Haji Yudi tampak bersemangat bercerita tentang berbagai hal terkait keberadaan pesantren KQC ini. Topik bisnis pun tak luput ia singgung. Memang, Pak Haji Yudi ini dikenal sebagai pengusaha yang ulet dan militan. Ia sangat senang mengajak para pemuda untuk belajar berbisnis. Saat ini pun sebuah program pembinaan pemuda untuk berwirausaha tengah dijalankannya. Program itu bernama Perwira atau Pemuda Wirausaha.
Di sela-sela perbincangan terdengar telepon genggam seorang ustaz berdering. Ada telepon dari Ustaz Ahmad Zumhur. Beliau meminta bantuan beberapa orang santri untuk membantu mengelola hewan kurban di kompleks perumahan yang tak jauh dari persantren. Sebanyak lima orang santri ditambah tiga orang ustaz muda segera berangkat memenuhi permintaan Ustaz Ahmad Zumhur.
Bincang santai pun berakhir. Pak Haji Yudi undur diri. Beberapa ustaz masih bertahan untuk menikmati camilan pemberian dari salah seorang wali santri. Orangtua Rifqi, santri kelas 7 yang datang menjenguknya membawa oleh-oleh makanan ringan. Alhamdulillah, warga KQC tak pernah kekurangan camilan. Selalu saja ada wali santri yang membawa oleh-oleh sambil menjenguk anaknya.
Setengah jam menjelah adzan Ashar, datanglah seorang donatur membawa puluhan kantung keresek berisi daging kurban. Seorang pengusaha rumah kost di Bandung membagi hewan kurbannya kepada kami.  Kami sangat sumringah. Artinya, sore ini para santri bisa nyate.
Usai solat Ashar, para santri tak sabar untuk nyate. Beberapa orang ustaz juga tampak bersemangat mempersiapkan alat pembakaran untuk sate. Para santri ikut juga menyiapkan. Cukup kesulitan mereka membakar arang-arang yang tersedia. Namun, dengan semangat juang untuk menikmati sate buatan sendiri, akhirnya arang-arang itu mampu terbakar. Baranya menyala merah. Potongan daging kurban yang sudah ditusuk-tusuk dengan bilah bambu itu segera dibakarnya. Bau asap sate segera menyerbak.
Para santri bersuka cita menikmati sate meski tanpa bumbu kacangnya. Mereka bergiliran memanggang satenya masing-masing. Keceriaan memancar dari wajah mereka. Ya, meski mereka tak dapat merayakan Idul Adha bersama orangtuanya di rumah, mereka dapat merayakannya dengan suka cita bersama kami, orangtua keduanya di pesantren, bersama teman-temannya yang sudah seperti saudara. Inilah indahnya berkurban di pesantren, berkurban ala KQC.***(ek/kqc)

Please follow and like us:
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *