Catatan Live in Alkindi Jundi (Kelas IX)

Jumat, 13 Oktober 2017
Hari ini kami bangun kesiangan sehingga kami ketinggalan shalat tahajud. Namun, kami masih dapat shalat shubuh berjamaah.
Pukul 06.00 WIB kami mulai bergerak memebersihkan masjid setelah sebelumnya kami berjanji kepada Ustaz Nyanyang untuk membantu membersihkan masjid setiap pagi. Ustaz Nyanyang juga meminjamkan vacum cleaner untuk memudahkan pekerjaan kami.
Segera saja kami berbagi tugas. Ada yang menyapu halaman, membersihkan kaca, menggosok WC, dan membersihkan karpet serta merapikan Al-Quran. Setelah itu, kami kembali menuju rumah untuk sarapan.
Menu sarapan kami tidak terlalu “wah” sebenarnya, hanya semangkuk mie rebus dan segelas kopi hangat. Maklum, pagi-pagi cuaca masih dingin sehingga chef kami kurang semangat dalam memasak makanan selain mie.
Setelah itu, melihat telur-telur hasil penangkaran kemarin. Waktu dilihat, ternyata rakaban (tempat penetasan telur) yang dipasang kemarin telah penuh dengan bintik-bintik oranye yang merupakan telur ikan lele.
Kemudian, kami memindahkan ikan lele yang telah dikawinkan sebelumnya, ke kolam yang berada di dekat saung. Kami membalik rakaban yang awalnya berada di atas jadi dibawah. Untuk hasil yang maksimal, kami juga mengganti air di kolam-kolam tersebut.
Setelah semuanya beres, ternyata ada dua kolam di blok lain yang ikannya banyak yang mati. Menurut Kang Jejen, itu disebabkan suhu air yang tidak stabil. Segera saja kami bersihkan kedua kolam tersebut dari bangkai ikan yang menggunung. Selepas itu, kami shalat kemudian dilanjutkan dengan makan. Menu makan siang kami adalah nasi, midog (semacam omlet) plus sambal. Kami beristirahat sejenak untuk menghilangkan penat setelah bekerja di kolam.
Ba’da ashar, kami makan malam dengan sayur tahu-toge yang sangat nikmat ditambah ikan asin renyah yang menambah nikmatnya sayur tersebut. Usai makan kami melaksanakan shalat maghrib. Kami berada di masjid sampai waktu isya’, kemudian, kami kembali ke rumah untuk tidur
 
Sabtu, 14 Oktober 2017
Pagi ini selepas shalat subuh, kami melihat kolam tempat telur berada. Kata Kang Jejen, telur akan menetas dalam waktu satu hari sampai lima hari. Namun, kita harus berhati – hati terhadap katak. Apabila katak tersebut bertelur di kolam lalu menetas, anak-anak katak akan memakan anak-anak lele hingga habis.
Bentuk lele yang baru menetas ternyata sangat mirip dengan kecebong, hanya saja di kepalanya ada kumis kecil.
Makanan lele-lele kecil ini adalah cacing merah yang dibeli Rp.35.000,- per liter. Caranya, cukup letakkan saja cacing tersebut di kolam, maka ikan-ikan lele akan dengan lahap memakannya.
Bada zuhur, kami membuat kolam baru bersama Pak Dadan. Kolam ini berdiameter 3,6 meter. Sebelumnya, kami harus membawa pagar besi yang bisa dibentuk melingkar menyerupai kolam. Kami pun harus menggali tanah untuk lubang pipa pembuangan air. Akan tetapi, karena kolam tersebut berada di dekat kandang kambing, kami harus menggali tanah yang penuh dengan tumpukan kotoran kambing yang sangat bau.
Kegiatan tersebut kami lakukan hingga menjelang salat ashar. Usai shalat ashar kami mandi kemudian makan dengan menu nasi liwet, tahu, tempe, dan ikan asin.
Usai salat Maghrib dan Isya kami kembali ke rumah untuk beristirahat.
 
Ahad, 15 Oktober 2017
Hari ini tidak banyak yang kami lakukan. Kami hanya mengangkat karung-karung berisi tanah dan batu (brangkal) dari atas ke bawah. Selain itu, kami pun merapikan ranjang kayu dua tingkat yanag dibawa Pak Dadan pada hari kamis yang lalu di dekat vespa yang terparkir dekat pintu belakang.
Ketika kami merapikan kayu-kayu di bawah, tiba-tiba Pak Edi datang bersama istrinya untuk mengecek kegiatan kami selama Live In berlangsung. Kami dinasihati untuk tidak bermalas-malasan selama Live In. Beliau mengecek buku catatan kami untuk memastikan apakah kami melaksanakan jadwal dengan baik atau tidak. Setelah itu, beliau pun langsung pulang.
Pada malam harinya kami menggoreng ayam. Sudah lama kami merindukan makan ayam goreng. Meski tidak selezat masakan Bu May, namun tetap nikmat.
Besok kami harus pulang. Namun, tempat ini akan selalu berkesan bagi kami.
 
Senin, 16 Oktober 2017
Akhirnya, setelah menempun Ujian Tengah Semester (UTS) dalam bentuk kegiatan Live In, kami harus kembali belajar di pesantren guna mrngisi kembali otak kami yang selalu haus akan ilmu.
Pagi ini kami mengepak barang-barang kami. Cucian dijemur, baju dirapikan, piring dan gelas dicuci, kasur ditumpuk. Pokoknya semua kami bereskan.
Kami menunggu jemputan. Satu jam, dua jam, hingga maghrib jemputan tak kunjung tiba. Ustaz Nyanyang pun merasa heran. “Katanya mau pulang, kok masih di sini terus?” tanyanya.
Barulah seusai makan malam kami dijemput oleh Pak Toyib dan Ustaz Ahyar. Setelah mengambil ikan pesanan Pak Haji Yudi, kami pulang menuju pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *