Catatan Live In #1: Kiara Lawang, Kampung Eksotik

By: Eddi Koben


Kampung Kiara Lawang, Desa Cisarua, Kecamatan Tegal Waru, Kabupaten Purwakarta namanya. Kampung ini memiliki penduduk yang bermata pencaharian sebagai petambak ikan, penyadap karet, atau pekerja kebun. Ada juga beberapa penduduknya yang menjalani profesi sebagai penarik perahu motor juga pedagang keliling. Beberapa rumah penduduk yang halamannya cukup luas menyediakan jasa lahan parkir bagi para pemancing. Memang, kampung ini terletak di tepi aliran sungai Citarum dan dekat dengan waduk Jatiluhur.

Keragaman profesi penduduknyalah yang menjadikan kampung ini sebagai kampung pilihan bagi dua sekolah inklusif di wilayah Kabupaten Bandung Barat untuk menggelar program Live in bagi para siswanya. Live in adalah sebuah program yang bertujuan mendidik para siswa untuk hidup mandiri di tengah penduduk desa yang memiliki beragam keterbatasan.

Selama mengikuti Live in, para siswa diharuskan mengikuti aktivitas keluarga yang ditinggalinya. Siswa-siswa itu selama seminggu akan belajar bagaimana menjadi petambak ikan, penyadap karet, penarik perahu, tukang kebun, atau pedagang keliling. Mereka akan merasakan bagaimana cara penduduk di kampung ini mencari penghidupan.

Untuk menuju kampung Kiara Lawang tidak sulit. Akses jalan yang cukup bagus memudahkan para peserta Live in menuju ke kampung ini. Perjalanan dari Cimahi sebagai titik awal keberangkatan peserta hanya memakan waktu sekitar 2 jam menuju Kiara Lawang.

Ada beberapa alternatif rute dari Cimahi. Bagi yang membawa kendaraan roda empat bisa masuk tol Baros dan keluar di pintu tol Cikamuning untuk selanjutnya menempuh perjalanan menuju Cikalong Wetan, Waduk Cirata, dan Pasar Citeko Plered. Bagi kendaraan roda dua terpaksa harus melalui kemacetan wilayah Padalarang terutama di pasar Tagog. Setelah pasar Tagog dilalui, jalan relatif lancar hingga pasar Citeko Plered. Dari pasar Citeko masuk ke jalan desa yang hanya dapat dilalui oleh satu kendaraan. Maka, jika berpapasan dengan kendaraan lain, harus ada yang mengalah untuk menepi.

Memasuki jalan kampung ini, mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan cukup eksotis. Di kanan dan kiri jalan kita bisa menyaksikan padang rumput yang terhampar cukup luas berbukit-bukit. Sekelompok hewan piaraan seperti sapi dan kambing banyak berkeliaran di padang rumput itu.

Sesekali kawanan hewan itu masuk ke tengah jalan hingga menghambat laju kendaraan. Di puncak bukit, kita bisa melihat pemandangan eksotik lainnya. Di timur tampak berdiri gunung Parang dan di barat terhampar aliran sungai Citarum yang dibendung Waduk Jatiluhur.

Setelah padang rumput dilewati, hutan karet siap menyambut. Di sini kita bisa menikmati pemandangan eksotik lainnya. Di antara deretan pohon karet, berdiri batu-batu berukuran besar. Jika dilihat bentuknya, batuan itu seperti berasal dari sisa letusan gunung berapi. Entah gunung apa yang pernah meletus dan laharnya mengalir ke wilayah ini. Barisan pohon karet ini berakhir di gerbang desa. Gerbang desa ditandai oleh sebuah portal besi dan pos ronda. Selain itu, ada juga sebuah bangunan sekolah dasar.

Aroma kampung nelayan sudah terasa begitu memasuki gerbang desa ini. Rumah-rumah panggung berderet di sepanjang jalan desa. Beberapa rumah, terutama yang berdekatan dengan sungai, membuka warung untuk melayani kebutuhan para pemancing. Memang, di tepi sungai tampak barisan para pemancing yang sedang menunggui kailnya. Deru perahu motor pun terdengar sesekali menandakan bahwa ada penumpang yang diantar menyeberangi sungai yang sangat lebar itu.

Aktivitas Peserta Live in
Para peserta tiba selepas Zuhur. Mereka diangkut oleh tiga buah truk TNI dan beberapa kendaraan pribadi. Mereka datang terlambat dari jadwal yang diperkirakan sebelumnya. Sementara, tim pendahulu sudah menyiapkan segala keparluan untuk menyambut kedatangan para peserta.

Ada kejadian cukup menggelikan saat truk-truk TNI itu akan kembali ke Cimahi. Di tengah jalan yang memang sempit, ada sebuah mobil pick-up terparkir dengan pintu terkunci. Sopirnya entah ke mana. Orang-orang sibuk mencari tanpa mengenal siapa sopir mobil pick-up itu. Mobil itu berpelat nomor leter T, menandakan bahwa pemiliknya bukan dari luar kota Purwakarta.

Semua orang tampak kesal karena mobil pick-up itu betul-betul menghalangi jalan. Sopir-sopir truk TNI dan beberapa sopir mobil pribadi mencari cara bagaimana memindahkan pick-up itu. Ada yang mengatakan, “Kita gotong saja ramai-ramai!” Ada juga yang berusaha membuka kaca pintu agar bisa dimasuki. Namun, semuanya sia-sia. Semua orang tampak kesal dan bersungut-sungut.

Setelah sekitar setengah jam, tiba-tiba muncul seseorang menenteng kunci mobil. Ia lalu membuka pintu mobil pick-up yang terparkir itu, lalu memindahkannya. Rupanya sang empunya pick-up adalah orang tua salah seorang peserta yang mengira truk-truk TNI itu akan parkir lama-lama sehingga ia santai saja mengantar anaknya ke posko Live in.

Acara pembukaan yang sedianya akan digelar selepas shalat Zuhur, akhirnya diundur menjadi selepas Ashar.

Hal ini disebabkan para tamu undangan yang mayoritas adalah para induk semang peserta Live in sedang sibuk di tempat pekerjaannya masing-masing. Selain itu, para peserta pun masih tampak kelelahan setelah menempuh perjalanan. Akhirnya peserta hanya istirahat di masjid seusai makan siang.

Acara pembukaan baru benar-benar dapat dilakukan setelah shalat Ashar. Acara ini dihadiri oleh ketua RW, Plt Kepala Desa, dan beberapa tamu undangan. Acara pembukaan baru berakhir menjelang maghrib. Setelah itu, para peserta diserahkan kepada induk semangnya masing-masing. Mereka siap mengikuti aktivitas induk semangnya mulai besok. Demikian catatan Live in pada hari pertama.

Kiara Lawang, 03 Oktober 2016
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *