Catatan Live In #2: Keliling Kampung Siang Malam

Oleh Eddi Koben


Pada hari kedua pelaksanaan Live in, para peserta mulai beraktifitas mengikuti kegiatan para induk semangnya. Setelah semalam mereka merasakan bagaimana suasana di Kampung Kiara Lawang, pagi-pagi mereka mulai bekerja.
Diawali dengan aktivitas shalat subuh berjamaah di masjid kampung, para peserta kemudian mengikuti kuliah subuh yang dipimpin oleh Kepala Sekolah.
Aktivitas ibadah subuh berakhir pada pukul 05.30 WIB. Para peserta selanjutnya menuju rumah induk semangnya masing-masing.
Mereka ada yang mulai bekerja membantu induk semangnya. Sekelompok anak perempuan dengan semangat berjualan keliling. Beberapa penganan seperti pisang goreng atau bala-bala mereka jajakan. Ada juga yang kebagian menjaga warung di pinggir sungai.
Sebagian lagi ada juga yang mengikuti induk semangnya bekerja di kebun. Sementara, beberapa siswa tampak kebingungan karena ditinggal oleh induk semangnya ke tempat beraktifitas karena khawatir terlambat.
Maka, mereka hanya asyik bermain di sekitar sungai melihat-lihat pemandangan atau sekadar memancing di pinggir area tambak.
Matahari semakin meninggi. Deru perahu motor semakin sering terdengar. Para penyedia jasa penyeberangan mulai sibuk.
Orang-orang banyak yang meminta diseberangkan ke kampung yang berada di seberang sungai atau ada juga pekerja tambak yang meminta diantar ke tengah sungai tempat tambak mereka berada. Tarif yang dipatok untuk sekali menyeberang adalah Rp10.000 per orang.
Beberapa siswa peserta Live in yang tidak memiliki kesibukan tertarik untuk menaiki perahu motor. Dengan ongkos seikhlasnya, mereka diantar oleh operator perahu motor berkeliling sungai untuk sekadar menikmati pemandangan dan melihat-lihat tambak.
Pak Kamal selaku petugas yang berjaga di posko kesehatan, mulai sibuk melayani warga yang membutuhkan layanan kesehatan. Ia dibantu oleh beberapa peserta Live in yang kebagian jadwal bertugas.
Menjelang siang, beberapa kelompok peserta sudah kembali dari tempat beraktifitasnya. Mereka menuju dapur umum untuk makan siang. Selanjutnya, mereka bergerak menuju masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur dan istirahat.
Pukul 14.00 WIB peserta berkumpul di lapangan sekolah dasar.
Mereka mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh panitia. Game-game menarik mereka ikuti meski berada di bawah guyuran hujan yang cukup lebat. Aktivitas game baru berakhir menjelang shalat Ashar.
Selepas Ashar, karena hujan terus mengguyur, para peserta batal melakukan kegiatan di lapangan sepakbola. Seharusnya mereka melakukan kegiatan bermain bola atau sekadar menonton.
Akhirnya, sebagian mereka hanya tinggal di rumah induk semangnya masing-masing hingga menjelang maghrib. Hingga waktu isya mereka berada di mesjid untuk shalat dan mengaji.
Selepas Isya, setelah makan malam, para peserta melaksanakan kegiatan jurit malam. Beberapa anak kampung Kiara Lawang pun terlibat mengikuti kegiatan ini.
Peserta berkeliling kampung mencari pos-pos yang telah ditentukan. Karena penerangan terbatas, para peserta menggunakan lampu senter untuk berkeliling kampung. Di setiap pos, mereka diuji oleh para petugas. Ketajaman pancaindera peserta sangat dibutuhkan dalam menebak benda yang disodorkan penguji.
Pos penciuman menjadi pos yang paling menyulitkan peserta. Mereka diharuskan mencium berbagai aroma mulai wangi-wangian hingga bau-bauan seperti bau bawang hingga bau terasi. Meski tersiksa, para peserta tampak menikmati.
Aktivitas jurit malam berakhir hingga pukul 23.00 WIB. Mereka kembali ke rumah induk semangnya masing-masing untuk istirahat agar bisa melaksanakan aktivitas pada hari berikutnya.
Keceriaan tampak pada seluruh peserta. Meski masih merasa canggung, mereka mulai menikmati pekerjaan sebagaimana yang dilakukan oleh para induk semangnya. Anak yang normal maupun yang berkebutuhan khusus tampak berbaur saling membantu. Tak ada siswa yang merasa minder. Sebaliknya, mereka sangat percaya diri.
Anak-anak yang lebih dewasa mampu membimbing anak-anak yang lebih muda usianya. Mereka mampu membimbing dan memperlakukan anak-anak yang umurnya masih dibawahnya sebagaimana memperlakukan adik sendiri.
Anak yang memiliki keistimewaan autis misalnya, ia tidak dibiarkan terkucil. Teman-teman lainnya mampu mengajak dan membimbingnya. Di sinilah keakraban dan kehangatan itu tercipta. Tak ada sekat, semuanya berbaur dengan kelemahan dan kelebihannya. Ini pembelajaran yang sesungguhnya yang harus mereka dapatkan.
Kiara Lawang, 05 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *