Catatan Live In #4 : Festival Nasi Liwet dan Nonton Bareng

Oleh Eddi Koben


Aktivitas pagi para peserta Live in pada hari keempat tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Mereka masih melakukan hal yang sama. Ibadah pada waktu shubuh, sarapan, lalu bekerja membantu para induk semangnya masing-masing. Yang pergi ke tambak semakin ceria mengikuti aktivitas induk semangnya. Yang berjualan keliling semakin semangat menjajakan barang jualannya.

Begitu pula yang ikut bekerja di kebun. Yang bertugas di posko kesehatan semakin giat melayani warga yang membutuhkan layanan kesehatan.

Siang hari mereka beristirahat, shalat, dan makan siang. Setelah cukup beristirahat, mereka kembali membantu para induk semangnya.

Ada juga yang terus beristirahat di rumah induk semangnya karena tak ada lagi pekerjaan yang harus mereka kerjakan.

Sebagian peserta bermain-main di pinggir sungai, bermain bola, atau sekadar jalan-jalan.
Namun, ada yang berbeda pada pelaksanaan Live in hari keempat ini.
Panitia sengaja tidak menyediakan makan malam bagi para peserta. Para peserta Live in diharuskan mengikuti festival nasi liwet. Seluruh peserta wajib membuat nasi liwet. Mereka boleh bekerjasama dengan induk semangnya dalam pembuatan nasi liwet.
Panitia hanya menyediakan bahan-bahan pokoknya seperti beras, telur, dan bumbu-bumbu. Sehabis mandi sore, seluruh peserta mulai sibuk membuat nasi liwet dengan induk semangnya.

Semua berusaha membuat nasi liwet paling istimewa dan paling enak. Para induk semang ikut sibuk membantu karena mereka pun ingin menunjukkan kemampuannya dalam membuat nasi liwet.

Induk semang yang kebetulan memiliki tambak ikan sengaja mengambil beberapa ekor ikan nila yang cukup besar di tambaknya untuk disajikan bersama nasi liwet.

Beberapa peserta laki-laki sengaja siangnya memancing ikan dulu untuk pelengkap sajian nasi liwetnya.

Semua tampak sibuk, tapi tetap ceria. Dapur-dapur rumah induk semang tampak mengepulkan asap dari tungku tempat mereka memasak nasi liwet.

Sebagian besar penduduk di kampung Kiara Lawang memang masih menggunakan tungku untuk memasak. Kayu bakar tersedia cukup melimpah. Sementara kompor gas jarang digunakan karena kelangkaan gas elpijinya.

Nasi liwet hasil kreasi para peserta dan induk semangnya dibawa ke posko panitia seusai shalat Isya. Berbagai macam bentuk nasi liwet mereka sajikan kepada panitia.

Ada yang dibentuk seperti nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya seperti lalap, sambal terasi, ikan asin, atau ikan bakar. Ada pula yang disajikan sederhana dalam satu piring. Yang disajikan dengan kastrolnya pun ada.

Satu per satu nasi liwet itu dinilai oleh panitia, difoto, lalu dimakan ramai-ramai oleh peserta. Suasana tampak riuh.
Banyak warga yang datang untuk menonton. Halaman rumah yang dijadikan posko panitia tampak semarak. Semua ceria, semua bergembira menikmati sajian nasi liwet.

Pukul 20.00 WIB kegembiraan terus dilanjutkan ke gerbang desa. Peserta Live in dan warga beramai-ramai mengikuti acara nonton bareng pemutaran film.

Panitia menyediakan layar lebar dan pengeras suara pinjaman dari salah seorang warga.

Sebelum nonton bareng digelar, panitia membagi-bagikan dorprize kepada warga, baik orang tua maupun anak-anak. Tawa ceria dan senyum bahagia terpancar dari wajah-wajah penduduk Kiara Lawang.

Demikianlah secuil kebahagian itu dirasakan oleh warga dan para peserta Live in.

Ya, kata orang bijak, kebahagiaan itu tak perlu dicari, tetapi harus diciptakan. Dan, malam ini secuil kebahagiaan itu benar-benar tercipta lewat sebuah acara sederhana, Festival Nasi Liwet dan Nonton Bareng.

Semoga kebahagiaan kebahagiaan lainnya dapat kembali tercipta.***

Kiara Lawang, 06 Oktober 2016 Pukul 21.09 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *