Catatan Live In #5: Dari Susur Sungai Hingga Pentas Seni

Oleh Eddi Koben


Jumat ini adalah hari terakhir pelaksanaan Live in di kampung Kiara Lawang. Sabtu pagi seluruh peserta akan pulang kembali ke sekolah masing-masing.

Mereka akan kembali memulai aktivitas belajar pada Senin mendatang. Tentu saja mereka berharap otaknya akan lebih fresh setelah menjalani Live in hampir sepekan dan siap melahap materi pelajaran dan hafalan Al-Quran.

Karena ini hari terakhir, maka tak banyak aktivitas peserta Live in bersama para induk semangnya. Pagi setelah sarapan, peserta diajak panitia untuk jalan-jalan menyusuri anak sungai Citarum yang letaknya tak jauh dari pemukiman warga.

Anak sungai ini bermuara di sungai Citarum yang dibendung waduk Jatiluhur. Semua peserta mengikuti kegiatan jalan-jalan ke sungai dengan antusias. Ini merupakan pengalaman langka bagi mereka dan tak boleh dilewatkan begitu saja.

Jalur yang dilewati pertama-tama adalah jalan kampung yang cukup mulus dengan cor betonnya. Jalan kecil yang dicor ini berakhir di ujung kampung dekat area pemakaman.

Selanjutnya, peserta melewati lapangan sepakbola yang berlatar Gunung Bongkok dan Gunung Parang yang menjulang kokoh.

Jalan setapak yang biasa dilalui kerbau tak luput dilalui oleh peserta. Di beberapa titik terdapat kubangan tempat kerbau-kerbau berendam. Berbagai tanaman liar tumbuh subur. Pohon jambu air dan jambu biji pun tumbuh liar dengan leluasa.

Suara aliran sungai makin jelas terdengar. Para peserta semakin bersemangat menuju sungai. Para peserta perempuan saling bergandengan tangan karena khawatir terpeleset jatuh saat menuruni sungai. Anak-anak yang berkebutuhan khusus diawasi dengan ketat oleh teman-temannya agar tidak bergerak liar yang bisa menyebabkan terjatuh ke sungai.

Arus sungai yang tidak terlalu deras memudahkan para peserta untuk terjun ke sungai sekadar merendam kaki atau bermain air. Sebagian lagi hanya duduk-duduk di batu mengamati keindahan sungai. Ada juga yang iseng mencari batu-batu yang unik.

Seorang peserta menunjukkan temuan batunya yang ditempeli serpihan-serpihan kuning yang mengkilap. Diduga serpihan-serpihan kuning kemilau yang menempel di batu itu adalah emas. Saya pun menemukan batu berukuran kira-kira diameter 20 Cm dan berat kira-kira 2 Kg menyerupai tempurung kura-kura.

Batu unik itu saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan.
Setelah puas bermain-main di sungai, para peserta beranjak naik menuju area persawahan. Jalan licin agak menyulitkan mereka dalam menyusuri jalan menuju sawah.

Tapak-tapak kaki kerbau menjadi tanda bahwa jalanan ini merupakan perlintasan utama kerbau-kerbau dari sawah menuju sungai atau sebaliknya. Di sawah, para peserta kembali bermain-main. Kali ini mereka bermain dengan lumpur.

Sebagian tampak beristirahat di bawah pohon-pohon petai lamtoro yang tumbuh liar.
Sekitar pukul 10.00 WIB para peserta beranjak pulang ke posko dengan melewati jalur yang sama.

Pancaran wajah yang kelelahan tampak dari para peserta terutama peserta perempuan. Namun, tetap saja mereka merasa senang karena mendapat kesempatan jalan-jalan ke tempat yang selama ini jarang mereka singgahi.
Tiba di posko, para peserta laki-laki bergegas mandi dan bersiap melaksanakan shalat Jumat.

Sementara siswa perempuan beristirahat di rumah induk semangnya masing-masing. Selepas makan siang seluruh peserta berlatih bersama guru pembimbingnya untuk pentas seni.

Aktivitas latihan terhenti sejenak untuk shalat Ashar. Usai shalat, latihan kembali digelar hingga pukul 17.00 WIB.

Selepas shalat Isya, beberapa peserta membantu panitia mempersiapkan panggung dadakan untuk pentas seni.

Warga baik orang tua maupun anak-anak sudah berkumpul di area panggung bersiap menonton hiburan dari para peserta Live in.

Mereka pun berharap akan kembali mendapat dorprize dari panitia karena panitia menjanjikan akan membagikan dorprize lagi.
Acara pentas seni baru dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Setiap kelompok telah bersiap menampilkan kreasi seninya. Dengan semangat dan penuh percaya diri mereka tampil di hadapan warga kampung Kiara Lawang.

Gelak tawa penonton mewarnai penampilan para peserta Live in yang tampil di panggung. Tingkah kocak para penampil yang salah saat memainkan perannya di atas panggung menjadi hiburan tersendiri.

Sesekali pembawa acara menyelingi acara dengan pembagian dorprize. Para penonton bersorak gembira begitu beberapa di antaranya berhasil mendapatkan dorprize.

Inilah hiburan sederhana dari para peserta Live in. Pancaran kebahagian kembali hadir pada kegiatan di malam terakhir Live in. Ini malam perpisahan, meninggalkan segala kesan bagi seluruh warga kampung Kiara Lawang. Ucapan terima kasih terungkap dari peserta dan panitia Live in atas segala penerimaan warga. Ilmu yang didapat oleh peserta Live in teramat berharga.

Semoga dapat diaplikasikan pada kehidupan mereka di masa mendatang.
Inilah ilmu hakiki yang berhasil mereka dapatkan dari penduduk kampung Kiara Lawang.

Mereka belajar bagaimana hidup sederhana. Mereka belajar bagaimana menghadapi tantangan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

Mereka belajar bagaimana bergotong-royong, saling mengasihi, saling melindungi. Semua itu tak sepenuhnya mereka dapatkan di bangku sekolah. Masyarakat dan alamlah yang berhasil mengajari mereka semua itu.

Semoga siswa-siswa ini dapat menjalani Live in-Live in berikutnya di tempat dan waktu yang berbeda untuk menggali ilmu lebih banyak lagi. Live in sesungguhnya akan mereka jalani kelak ketika mereka sudah dewasa dan berkeluarga. Semoga!***

Kiara Lawang, 07 Oktober 2016 Pukul 23.47 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *