Mereka Paham Susahnya Cari Nafkah

:catatan live in 3
 
Monitoring ke kelompok 2 Live in Lembang dilakukan pada Sabtu (21/10/2017). Tiba di Lembang sekitar pukul 14.15 WIB setelah menempuh perjalanan dari pesantren dengan menembus hujan lebat. Saya bersama Ust. Uzie langsung menemui para peserta Live in yang tengah bekerja di kandang sapi.
Mereka tampak tengah sibuk membersihkan kotoran sapi. Ada yang menyemprot kotoran dengan air dari selang, ada juga yang menyapu kotoran menggunakan sapu lidi. Begitu kami datang, mereka bersorak kegirangan dan langsung menghampiri kami. Setelah berbincang sejenak dengan induk semang, kami melanjutkan memantau para peserta yang kembali sibuk bekerja di kandang.
Beberapa orang santriwati tampak sibuk memberi pakan berupa ampas tahu. Bau ampas yang cukup menyengat tak mereka hiraukan. Apalagi bau kotoran sapi. Rupanya mereka sudah cukup akrab dengan berbagai aroma tersebut. Mereka tampak gembira melakukan aktivitas itu. Biasanya di pesantren mereka akrab dengan berbagai hafalan Al-Quran, kini mereka mulai mengakrabi aktivitas baru tanpa mengesampingkan hafalan Al-Quran.
Menjelang azan Ashar, mereka berhenti bekerja untuk istirahat sejenak. Beberapa orang sigap meminjam kamera yang kami bawa. Mereka gembira berswafoto dengan berbagai gaya berlatar kandang sapi. Kami membiarkan mereka berbahagia meski sejenak. Kami paham, di pesantren mereka jarang mengekspresikan diri lewat swafoto karena tak ada fasilitasnya.
Azan Ashar akhirnya berkumandang. Kami bergegas menuju masjid untuk sembahyang. Pulang dari masjid kami kembali ke kandang. Para santriwati itu kembali melanjutkan tugasnya mengurus sapi-sapi itu. Seorang santriwati, Chalifah, tampak serius belajar memerah susu sapi dengan dipandu oleh seorang karyawan peternakan. Rupanya baru dia yang berani memerah susu sapi. Memang, untuk memeras susu sapi ini diperlukan keahlian khusus. Tak bisa sembarang orang memerah. Jika salah, bisa-bisa kena tendang kaki sapi. Itu cukup membahayakan.
Usai belajar memerah susu, Chalifah sejenak berbincang dengan kami. Ia mengungkapkan rasa syukurnya bisa mengikuti program Live in dengan mengurus sapi ini.
“Saya jadi paham bagaimana rumitnya mengurus sapi. Ternyata tidak gampang. Tahunya saya bisa menikmati daging sapi yang lezat serta susu sapi yang segar,” ungkap Chalifah.
Ia jadi lebih bisa mensyukuri kenikmatan yang selama ini ia peroleh. Ia pun mengungkapkan rasa empatinya terhadap seorang karyawan peternakan yang tak pernah mengeluh mesti harus bekerja keras mengurus sapi demi menghidupi tak kurang dari sepuluh anggota keluarganya. Ia hidup sederhana bahkan cenderung kekurangan tapi tetap mensyukuri apapun yang ia peroleh. Chalifah jadi bisa belajar banyak dari karyawan itu bagaimana cara menysukuri apa yang diperoleh.
Kami sangat senang mendengar penuturan Chalifah. Artinya, salah satu misi kami dalam program Live in ini dapat tercapai, yaitu tumbuhnya rasa empati pada diri santri. Mereka dapat merasakan betapa tidak mudah mencari nafkah yang halal demi menghidupi keluarga.
   
Monitoring ke Cimenyan
Usai melakukan pemantauan peserta Live in di Lembang, kami bergegas menuju Cimenyan setelah sebelumnya memeriksa buku laoran harian kegiatan peserta Live in di Lembang. Rute Lembang-Cimenyan kami tempuh melalui jalur Maribaya, tembus ke Dago, lalu Cimenyan.
Di Cimenyan, para santri putra kelompok kedua kami dapati tengah bersantai ria mendengarkan alunan lagu dangdut. Sore itu, selepas bekerja di kolam lele, mereka sempatkan bersistirahat di saung yang tak jauh dari kolam lele. Mereka asyik mendengarkan lagu dangdut dari sebuah radio. Terlebih sore itu hujan turun cukup deras.
Kelompok kedua yang dihuni oleh Tegar, Rizki, Nabil, Farhan, dan Alfian melaksanakan tugas seperti yang pernah dilakukan oleh kelompok sebelumnya. Dengan panduan seorang karyawan di peternakan lele, mereka diajari cara memberi pakan lele, memilah bibit, dan memindahkannya ke kolam pembesaran.
Kami melakukan monitoring di Cimenyan hingga bada Isya. Kami manfaatkan untuk memberi semangat kepada para peserta Live in di sana agar bekerja giat dan belajar sungguh-sungguh cara beternak lele. Kami meyakinkan mereka bahwa beternak lele bisa menjadi alternatif untuk mencari nafkah di masa yang akan datang. Kecakapan hidup seperti ini yang jarang diperoleh anak-anak seusia mereka terutama yang hdup di perkotaan. Kami yakinkan kepada mereka bahwa kelak hal ini akan sangat bermanfaat untuk mereka.
Kami pun sempatkan berbincang dengan induk semang mereka untuk mengetahui progres kerja mereka di peternakan. Induk semang menuturkan mereka lebih giat bekerja dibanding kelompok sebelumnya. Mereka pun rajin menulis laporan kegiatan harian. Memang, para peserta Live in ini kami beri tugas untuk mencatat kegiatan harian selama melaksanakan program Live in. Ini baik untuk menjaga agar sentuhan menulis yang mereka peroleh tidak hilang.
Usai shalat Isya, kami bergegas kembali ke pesantren. Kemacetan lalu lintas di wilayah Dago dan Sukajadi kami tembus dengan sabar. Tugas monitoring hari ini pun usai dengan membawa perasaan gembira melihat perkembangan peserta Live in di kedua tempat itu.*** (ek/kakice

Please follow and like us:
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *