Sholatnya Anak Kita

Beberapa kawan pernah mengungkapkan kegundahannya akan anaknya yang susah disuruh sholat, walau sudah remaja. Apalagi subuh, perlu upaya ekstra untuk membangunkan. Yang menambah miris, orangtuanya termasuk pegiat dakwah.
Remaja belum mau sholat? Ini bisa terjadi di keluarga mana pun. Tapi tentu kita tidak ingin hal ini menjangkiti anak-anak pengusung dakwah. Sholat bukan hanya penentu tegak atau lemahnya keislaman seseorang, namun sholat adalah amal yang pertama kali akan dihisab. Bahkan Ibnu Qoyyim Al-Jaiziyah mengatakan, meninggalkan sholat lima waktu dengan sengaja dosanya lebih besar dibanding membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan  minum minuman keras.
Sebegitu utamanya sholat, mengapa dalam keluarga yang lingkungannya Islami masih ada saja anak remaja yang belum mandiri dalam sholat? Apakah orangtuanya kurang memberi pemahaman? Sebagaimana halnya rezeki dan harta, Allah melapangkan dan menyempitkan siapa yang Ia kehendaki. Begitu juga dalam hal anak. Allah bisa memberikan anak yang mudah diarahkan, ada pula yang sulit. Tentu semua masih dalam kerangka inginnya Allah melihat keimanan seseorang melalui berbagai rintangan yang Ia tetapkan.
Namun, walau usaha tidak harus selalu berbanding lurus dengan hasil, orangtua tetap perlu mengikhtiarkan segala cara agar anak punya pemahaman mumpuni tentang sholat dan menegakkannya. Tentu sulit jika kita mengetatkan hal penting ini ketika anak sudah mau lagi diatur, seperti di usia remaja. Kedisiplinan memang tepatnya ditanamkan di usia 7 – 14 tahun.
Jika sholat masih dipahami anak sebagai kewajiban memaksa, meski sudah dinasihati segala cara, janganlah berputus. Bisa jadi lewat lisan orangtua belum mempan, tapi “tangan-tangan” Allah bisa mengubah anak melalui ikhtiar lainnya dari orangtua.
Seorang ibu lugu becerita, ia pernah meminta kepada teman anaknya menasihati si anak agar rajin sholat seperti temannya itu. Teman si anak menjawab singkat, “Bu, yang bisa membuat anak Ibu rajin sholat adalah doa Ibu sendiri.” Akhirnya si Ibu pun menggencarkan lagi doanya. Ternyata betul, selang beberapa bulan anaknya sudah mau sholat tanpa disuruh.
Amal shaleh dan ketaatan orangtua pada Allah ternyata berdampak besar bagi keshalihan orangtuanya. Bukan itu saja, banyak manfaat dan kemudahan yang didapat anak di dunia dan di akhirat yang Allah berikan akibat keshalihan orangtuanya, seperti rezeki yang luas, penjagaan dan pembelaan Allah. Sebagaimana kisah Nabi Khindir yang membangun kembali dinding rumah anak yatim karena orangtua anak itu adalah orang shalih. Pun sebaliknya, kemaksiatan dan dosa-dosa besar yang dilakukan orangtua bisa berpengaruh buruk pada kualitas hidup anak-anaknya.
Karenanya, jika masih ada anak yang belum mandiri sholat, teruslah doakan dan perbaguslah keshalihan orangtua. Insya Allah, “tangan-tangan” Allah yang akan membimbingnya untuk meraih banyak keajaiban.

Penulis: Meutia Geumala
Sumber: Majalah Ummi No. 8 | XXVII | Agustus 2015
Please follow and like us:
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *