Surga Untuk Para Pencari Ilmu

“… Dan siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah SWT akan memudahkan jalan baginya menuju surga …” (HR Muslim)

Bagian dari hadits Nabi Muhammad SAW yang ke-36 dalam hadits Arbain Nawawiyah ini menjelaskan fadhilah atau keutamaan thalabul ‘ilmi (upaya mendapatkan ilmu). Seorang pencari ilmu akan mendapatkan keutamaan ini jika ia menempuh usaha atau perjalanan, meski panjang atau sulit, demi mendapatkan sedikit demi sedikit ilmu. Bahasa haditsnya, yaltamisu ilman, bahkan seakan seperti mengais-ngais ilman (menghimpun dan mengumpulkan sedikit demi sedikit ilmu).
Dan sebagai balasan jihad atau usaha sungguh-sungguh dalam mencari ilmu ini, Allah SWT akan memudahkan jalan baginya menuju surga. Kita tahu, banyak jalan menuju surga, dan itu semua tidak mudah, karena penuh onak, ujian, penderitaan, dan jihad yang panjang. Namun hadits ini memberi penjelasan,, di antara jalan panjang ke surga yang paling mudah adalah ilmu.

Ilmu, Hujan dan Surga

Dalam hadits shahih lain, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan pentunjuk dan ilmu yang aku bawa — sebagai utusan Allah — seperti hujan lebat yang turun mengenai tanah. Ada jenis tanah yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak; ada tanah yang keras, ia menahan air sehingga menggenang, akibatnya, Allah memberi manfaat dengan air itu kepada manusia, sehingga mereka meminumnya, memberi makan binatang dan bercocok tanam; ada juga hujan itu yang mengenai kawasan lainnya, dia itu berbentuk lembah yang tidak menahan air dan tidak menumbuhkan tetumbuhan.
Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan memanfaatkan petunjuk dan ilmu yang aku bawa, lalu ia mengetahui dan mengajarkan-nya; dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak memanfaatkannya; dan orang yang tidak menerima hidayah yang aku bawa sebagai utusan Allah SWT.” (Muttafaqun ‘alaih).
Jadi, ilmu yang memudahkan jalan menuju surga adalah ilmu yang dibawa dan diajarkan Rosulullah SAW kepada umatnya. Lalu, ilmu itu diserap, dipahami (alima), dan diamalkan (allama), seakan ilmu itu air hujan yang menyiram tanah, lalu tanah itu mengandung, menahan dan menyimpan air. Kemudian tanah itu menumbuhkan tanaman-tanaman dan atau rumput yang bermanfaat bagi manusia dan makhluk lainnya.
Terserapnya ilmu sedikit demi sedikit oleh manusia, dan sedikit demi sedikit pula manusia melakukan perbaikan diri atas dasar ilmu itu, lalu, sedikit demi sedikit juga ia mengamalkan dan mengajarkannya, itulah jihadul ‘ilmi (jihad berilmu), dan inilah yang menjadikan Allah SWT memudahkan jalan baginya menuju surga, biidznillah.

Ilmu Apa Yang Dimaksud

Lalu ilmu apa yang dimaksud dalam hadits ini? Bedasarkan kajian para ulama terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits -hadits Rosulullah SAW lainnya, seperti tertuang dalam Ar-Rosul wal ‘ilmu karya Dr. Yusuf Al-Qaradawi, ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang:

  • Menumbuhkan keimanan, menghidupkan hati nurani, menanamkan nilai-nilai, sifat dan akhlak mulia.
  • Berada di bawah naungan keimanan.
  • Dapat mengendalikan perjalanan hidup manusia, mengekang dominasi ego dan nafsu amarah.
  • Menanamkan akidah yang benar dan selamat dari segala khufarat dan kemusyrikan.
  • Mendorong manusia beribadah secara banar kepada Allah SWT.
  • Dapat mendidik dan mensucikan jiwa manusia agar terbebas dari al-muhlikat (segala hal yang membinasakan) serta menghiasi diri diri dengan al-munjiyat (segala hal yag menyelamatkan)
  • Mengajarkan manusia untuk berperilaku benar dalam menjalin hubungan dengan Allah SWT, dengan keluarga dan seluruh umat manusia, bahkan terhadap makhluk lainnya.
  • Mengajarkan kepadanya hal yang halal dan haram.

Intinya, ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama. Sebab itulah ilmu yang dibawa dan disampaikan Rosulullah SAW kepada umatnya.
Lalu bagaimana dengan ilmu dunia? Ilmu dunia bisa termasuk ilmu yang dimaksud hadits ini jika ia membei manfaat kepada pemiliknya untuk urusan agamanya. Sebab, ilmu dunia itu bersifat wasilah atau alat yang membantu manusia dalam tugasnya untuk beribadah kepada Allah SWT dan menjalankan perannya sebagai khalifah Allah SWT di bumi.
Tinggi rendahnya nilai dan bobot ilmu dunia, juga hukum mempelajarinya dari sisi wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram, bergantung pada tingkat kemanfaatannya dalam menjalankan tugas ini. Semakin bermanfaat dalam membantu menjalankan tugas, semakin berbobot dan semakin tinggi hukumnya, bahkan bisa sampai ke tingkatan fardhu.

Niat Yang Benar

Dan agar kelak benar-benar mencapai surga, Rosulullah SAW mengatakan, seseorang harus membuang jauhniat negatif dalam thalabul ‘ilmi dan menata niat sebaik-baiknya karena Allah SWT. Sabdanya “siapa di antara kalian yang mempelajari ilmu yang seharusnya dipelajari untuk meraih ridha Allah, tetapi dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, kelak pada hari kiamat dia tidak akan mencium aroma surga.” (hadits shahih, diriwayatkan Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah).
Semoga Allah SWT menjadikan kita orang yang senantiasa berada di jalan ilmu.

Penulis: Musyafa Ahmad Rahim, Lc, MA
  • Alumnus LIPIA dan UIN Syarif Hidayatullah
  • Dosen STIU Al-Hikmah
  • Supervisor Halaqah Tahfizh Al-Qur’an WAMY Kantor Jakarta
Sumber: Majalah UMMI Edisi 11 November 2013

 
 

Please follow and like us:
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *